Jakarta, 5 September 2026 – Pergerakan pasar saham Indonesia selama periode perdagangan 31 Agustus hingga 4 September 2026 menunjukkan kontras antara penguatan indeks utama dan tekanan yang dialami sejumlah saham individual. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat meningkat 1,82 persen dalam sepekan dari posisi 6.518,12 menjadi 6.636,47. Namun, di tengah penguatan tersebut terdapat sepuluh saham yang mengalami koreksi cukup dalam dan masuk dalam daftar top losers mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) menempati posisi teratas dengan penurunan 38,14 persen. Saham PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) dan PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) juga mengalami tekanan besar sepanjang pekan.
RGAS menjadi saham dengan koreksi terdalam setelah harganya turun dari Rp194 menjadi Rp120 per saham. Penurunan sebesar 38,14 persen tersebut membuat RGAS berada jauh di atas emiten lain dari sisi persentase pelemahan mingguan. Tekanan terhadap RGAS sudah terlihat sejak awal pekan ketika saham tersebut mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Pelemahan kemudian kembali terjadi pada sesi-sesi berikutnya sehingga akumulasi koreksi menjadi semakin besar. Pergerakan tersebut menunjukkan tingginya tekanan jual terhadap saham RGAS dalam periode perdagangan yang relatif pendek.
Posisi kedua dalam daftar saham dengan penurunan terbesar ditempati Fuji Finance Indonesia. Saham berkode FUJI tersebut melemah 26,06 persen dalam sepekan dan mengakhiri perdagangan pada level Rp244 per saham. Tekanan terhadap FUJI juga sudah terlihat sejak perdagangan awal pekan ketika harganya mengalami koreksi dua digit. Pelemahan kembali berlanjut pada sejumlah sesi berikutnya sehingga saham tersebut gagal mengimbangi pergerakan positif IHSG secara keseluruhan. Koreksi lebih dari seperempat nilai saham dalam satu pekan membuat FUJI menjadi salah satu emiten yang mendapatkan perhatian pelaku pasar.
PT Tempo Intimedia Tbk (TMPO) berada di posisi ketiga dengan penurunan sebesar 21,30 persen hingga berakhir di harga Rp170 per saham. Sementara itu, Bekasi Asri Pemula berada tidak jauh di belakang dengan koreksi 21,26 persen dan ditutup pada level Rp137. Dengan demikian, empat saham teratas dalam daftar top losers mencatatkan penurunan lebih dari 20 persen selama periode 31 Agustus hingga 4 September. Pergerakan tersebut terjadi ketika indeks pasar secara keseluruhan justru mengalami kenaikan. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan IHSG tidak selalu diikuti seluruh saham yang diperdagangkan di bursa.
Lima saham berikutnya juga mengalami koreksi dua digit. PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) turun 15,65 persen hingga berada pada level Rp248, sedangkan PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) melemah 11,67 persen menjadi Rp318 per saham. PT Ekadharma International Tbk (EKAD) kemudian mencatatkan penurunan 10,53 persen dan mengakhiri pekan pada harga Rp374. Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) terkoreksi 10,36 persen menjadi Rp865. Deretan tersebut menunjukkan tekanan jual terjadi pada emiten dari berbagai bidang usaha dan tidak terkonsentrasi pada satu sektor tertentu.
Dua posisi terakhir dalam daftar sepuluh saham dengan koreksi terbesar ditempati PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) dan PT Inter Delta Tbk (INTD). MDIA turun tepat 10 persen sehingga berakhir pada level Rp216 per saham, sedangkan INTD mencatatkan penurunan 9,72 persen menjadi Rp260. Dengan demikian, urutan top losers sepekan terdiri atas RGAS, FUJI, TMPO, BAPA, DWGL, FUTR, EKAD, VKTR, MDIA, dan INTD. Besarnya koreksi masing-masing saham berbeda, tetapi seluruhnya bergerak berlawanan dengan arah IHSG selama pekan tersebut. Investor perlu mencermati karakteristik serta faktor yang memengaruhi masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan berdasarkan penurunan harga semata.
Di sisi lain, kinerja IHSG selama pekan tersebut tergolong positif meskipun perdagangan hanya berlangsung dalam periode yang lebih pendek. IHSG meningkat 1,82 persen menjadi 6.636,47 dari posisi 6.518,12 pada akhir pekan sebelumnya. Sepanjang periode perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.704 dan level terendah 6.476,17. Pergerakan tersebut memperlihatkan volatilitas tetap terjadi meskipun secara mingguan indeks mampu menghasilkan penguatan. Kondisi pasar juga didukung peningkatan aktivitas transaksi yang menunjukkan partisipasi investor tetap tinggi.
Rata-rata volume transaksi saham selama sepekan tercatat meningkat sekitar 35,90 persen menjadi 48,99 miliar saham dari sebelumnya sekitar 36,05 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 25,75 persen dari Rp15,28 triliun menjadi sekitar Rp19,22 triliun. Peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan tingginya perputaran transaksi di pasar ketika sejumlah saham mengalami pergerakan harga yang signifikan. Pergerakan indeks dan masing-masing saham tetap dapat berbeda karena IHSG mencerminkan kumpulan saham dengan bobot yang tidak sama. Kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar dapat menopang indeks meskipun banyak saham lain berada dalam tekanan.
Khusus RGAS, koreksi mingguan yang mencapai 38,14 persen juga berlangsung di tengah dinamika terkait perubahan kepemilikan saham perusahaan. Tekanan tersebut membuat pergerakan RGAS menjadi salah satu yang paling mencolok di pasar selama sepekan. Namun, penurunan harga dalam jangka pendek tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai prospek sebuah perusahaan. Investor tetap perlu memperhatikan laporan keuangan, aksi korporasi, perubahan kepemilikan, likuiditas perdagangan, valuasi, serta informasi material yang disampaikan emiten. Perubahan harga yang sangat cepat juga meningkatkan risiko bagi investor yang masuk hanya karena mengharapkan pembalikan harga dalam waktu singkat.
Pergerakan sepuluh saham top losers pada pekan 31 Agustus hingga 4 September 2026 pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kondisi indeks yang menguat tidak berarti seluruh saham memberikan kinerja positif. RGAS mengalami koreksi paling dalam sebesar 38,14 persen, diikuti FUJI 26,06 persen, TMPO 21,30 persen, dan BAPA 21,26 persen. DWGL, FUTR, EKAD, VKTR, MDIA, serta INTD melengkapi daftar saham dengan penurunan terbesar selama periode tersebut. Pada saat bersamaan, IHSG justru berhasil naik 1,82 persen dan ditutup di level 6.636,47. Memasuki perdagangan pekan berikutnya, pelaku pasar akan kembali mencermati apakah saham-saham yang terkoreksi tersebut mampu mengalami stabilisasi atau masih melanjutkan tekanan jual.