Bank Indonesia Ungkap 10 Kota Mengalami Perlambatan Kenaikan Harga Rumah

Jakarta, 10 Mei 2026 – Bank Indonesia mengungkapkan sebanyak 10 kota di Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah berdasarkan hasil survei pasar properti residensial terbaru. Kondisi tersebut mencerminkan melambatnya aktivitas sektor properti di sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir.

Perlambatan harga rumah terjadi pada berbagai tipe hunian, mulai dari rumah kecil hingga rumah menengah dan besar. Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini disebut berkaitan dengan daya beli masyarakat yang masih tertahan, tingkat suku bunga kredit, serta kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih cenderung menunda pembelian properti karena mempertimbangkan kemampuan finansial dan biaya cicilan kredit rumah. Selain itu, kenaikan harga bahan bangunan dan biaya konstruksi juga membuat pengembang lebih berhati-hati dalam menentukan harga jual.

Sejumlah pelaku industri properti menilai pasar saat ini masih bergerak secara selektif. Konsumen disebut lebih fokus mencari hunian dengan harga terjangkau, lokasi strategis, serta skema pembayaran yang lebih fleksibel dibanding melakukan pembelian rumah dengan nilai tinggi.

Meski mengalami perlambatan di beberapa kota, sektor properti nasional dinilai masih memiliki peluang untuk tumbuh secara bertahap apabila kondisi ekonomi dan kepercayaan konsumen terus membaik. Program insentif pemerintah dan dukungan pembiayaan perbankan juga diharapkan dapat membantu mendorong permintaan pasar.

Pengamat ekonomi menyebut perlambatan harga rumah tidak selalu menjadi sinyal negatif karena dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh hunian dengan harga yang lebih stabil. Namun di sisi lain, kondisi ini tetap perlu dipantau agar tidak berdampak terlalu besar terhadap industri konstruksi dan sektor turunannya.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar properti sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Koordinasi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku industri dinilai penting untuk memastikan sektor properti tetap sehat dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.