Jakarta, 28 Agustus 2026 – Era smartphone Android murah diperkirakan semakin sulit dipertahankan di tengah lonjakan harga komponen memori global. Kondisi tersebut membuat produsen ponsel harus menghadapi biaya produksi yang semakin tinggi, sementara konsumen di segmen entry-level sangat sensitif terhadap kenaikan harga.
Firma riset IDC bahkan memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 turun 16,7 persen. Proyeksi tersebut lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di angka 13,9 persen. Salah satu penyebab utama tekanan tersebut adalah kenaikan harga RAM dan NAND yang disebut melonjak lebih dari 300 persen secara tahunan.
Harga RAM dan NAND Melonjak
Krisis memori menjadi persoalan utama yang menekan industri smartphone. Permintaan besar dari pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan membuat produsen chip mengalokasikan lebih banyak kapasitas produksi untuk kebutuhan AI.
Akibatnya, pasokan memori untuk perangkat konsumen menjadi semakin terbatas. Smartphone, yang membutuhkan DRAM dan NAND untuk menjalankan sistem operasi, aplikasi, penyimpanan, serta berbagai fitur berbasis AI, ikut terdampak.
Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya membuat produsen sulit mempertahankan harga lama.
Harga HP Naik Signifikan
IDC memperkirakan harga jual rata-rata smartphone global pada 2026 meningkat 27,61 persen menjadi sekitar US$581.
Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya komponen sudah mulai diteruskan kepada konsumen. Produsen tidak lagi memiliki ruang yang cukup besar untuk menanggung seluruh kenaikan biaya produksi tanpa mengurangi margin keuntungan.
Situasi ini juga berpotensi membuat harga smartphone tetap tinggi hingga 2027.
HP Murah Paling Terpukul
Segmen entry-level menjadi kelompok yang paling rentan terhadap krisis tersebut. Berbeda dengan ponsel premium yang memiliki margin lebih besar, produsen HP murah memiliki ruang yang jauh lebih terbatas untuk menyerap kenaikan harga komponen.
Omdia sebelumnya memperkirakan pengiriman smartphone dengan harga di bawah US$400 dapat turun lebih dari 22 persen pada 2026. Bahkan, biaya memori untuk sejumlah ponsel murah telah mengambil porsi sangat besar dari total biaya komponen.
Kondisi tersebut membuat sejumlah produsen harus memilih antara menaikkan harga, mengurangi spesifikasi, atau mengurangi jumlah produksi.
Spesifikasi Bisa Ikut Dipangkas
Konsumen bukan hanya berpotensi menghadapi harga yang lebih mahal. Spesifikasi HP murah juga dapat mengalami penyesuaian.
Salah satu kemungkinan yang muncul adalah semakin banyak perangkat entry-level dengan kapasitas RAM lebih rendah. Produsen dapat mempertahankan harga agar tetap kompetitif dengan mengurangi penggunaan komponen yang paling mahal.
Hal tersebut membuat konsumen mungkin harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan spesifikasi yang sebelumnya dapat ditemukan pada kelas harga lebih rendah.
Produsen Mulai Menyesuaikan Strategi
Sejumlah produsen smartphone telah menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya memori. Beberapa merek bahkan dilaporkan menaikkan harga produknya di berbagai segmen pasar Indonesia sepanjang 2026.
Strategi lain yang dapat ditempuh adalah mengurangi produksi model dengan margin tipis dan lebih fokus pada perangkat kelas menengah atau premium.
Langkah tersebut dinilai lebih masuk akal secara bisnis karena produk dengan harga lebih tinggi memiliki ruang margin yang lebih besar untuk menyerap kenaikan biaya.
AI Jadi Salah Satu Pemicu
Ironisnya, perkembangan AI yang membuat smartphone semakin canggih juga ikut memperbesar kebutuhan terhadap memori.
Fitur AI yang berjalan langsung di perangkat membutuhkan kapasitas RAM dan penyimpanan yang lebih besar. Pada saat bersamaan, pusat data AI juga membutuhkan chip memori dalam jumlah sangat besar.
Produsen chip akhirnya menghadapi permintaan tinggi dari dua sisi, yakni industri AI dan perangkat konsumen.
Belum Berarti HP Murah Hilang Sepenuhnya
Meski era smartphone murah disebut terancam berakhir, bukan berarti seluruh HP murah akan langsung menghilang dari pasar.
Perangkat dengan harga terjangkau masih akan tersedia, tetapi konsumen kemungkinan harus menghadapi kompromi tertentu. Pilihannya bisa berupa spesifikasi lebih rendah, model lama yang harganya lebih murah, atau harga jual yang sedikit lebih tinggi.
Bahkan pada Agustus 2026 masih terdapat sejumlah perangkat Android dengan harga relatif terjangkau di pasar Indonesia. Namun, tren kenaikan biaya komponen membuat segmen tersebut semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Harga Tinggi Bisa Bertahan hingga 2027
Tekanan pasokan memori diperkirakan belum segera berakhir. Sejumlah proyeksi industri menyebut kondisi kelangkaan dapat berlanjut hingga 2027, sehingga produsen smartphone perlu menyesuaikan strategi mereka.
Jika harga DRAM dan NAND tetap tinggi, konsumen kemungkinan akan melihat lebih sedikit pilihan HP murah dengan spesifikasi tinggi.
Pada akhirnya, pasar smartphone dapat bergeser menuju kondisi ketika harga murah bukan lagi menjadi keunggulan utama, sementara efisiensi produksi dan kemampuan mengamankan pasokan komponen menjadi faktor penting bagi produsen.
Krisis memori global membuat era HP Android murah semakin terancam. Lonjakan harga DRAM dan NAND akibat tingginya permintaan industri AI mendorong biaya produksi naik, sehingga produsen diperkirakan akan menaikkan harga, memangkas spesifikasi, atau mengurangi produksi perangkat entry-level. Kondisi tersebut bahkan diprediksi dapat membuat harga smartphone tetap tinggi hingga 2027.