Semarang, 14 September 2026 – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 berlangsung meriah di Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan melibatkan ribuan peserta dari berbagai penjuru Indonesia. Sebanyak 2.242 peserta tercatat mengikuti kompetisi dan tergabung dalam kafilah dari 37 provinsi. Mereka akan bersaing dalam delapan cabang, 24 golongan, serta 48 kategori musabaqah yang telah dipersiapkan panitia. MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11 hingga 20 September 2026 dan menjadi salah satu agenda keagamaan nasional terbesar tahun ini. Pembukaan dilaksanakan di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, dengan dihadiri ribuan masyarakat serta perwakilan pemerintah pusat dan daerah. Selain menjadi arena kompetisi, penyelenggaraan MTQ diarahkan untuk memperkuat persaudaraan sekaligus membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Jumlah 2.242 peserta terdiri atas 1.751 peserta inti dan 491 peserta cadangan yang datang bersama rombongan kafilah masing-masing daerah. Jika seluruh unsur kafilah, pendamping, dan pihak terkait dihitung, jumlah orang yang hadir dalam rangkaian kegiatan mencapai lebih dari 7.000 orang. Besarnya jumlah tersebut membuat Semarang menjadi tempat pertemuan masyarakat dari hampir seluruh wilayah Indonesia selama penyelenggaraan MTQ. Setiap provinsi membawa peserta terbaik yang sebelumnya telah melewati proses pembinaan dan seleksi di daerah. Persaingan pun diperkirakan berlangsung ketat karena setiap kafilah berusaha memperoleh hasil maksimal. Meski demikian, semangat kompetisi tetap ditempatkan berdampingan dengan nilai persaudaraan dan silaturahmi.
MTQ Nasional XXXI mempertandingkan beragam kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman dan penguasaan Al-Qur’an. Peserta berasal dari kelompok usia anak-anak hingga dewasa dengan kategori yang disesuaikan berdasarkan cabang masing-masing. Tilawah menjadi salah satu cabang yang mendapatkan perhatian besar, sementara hafalan Al-Qur’an dipertandingkan mulai dari satu juz hingga 30 juz. Cabang tafsir juga diselenggarakan menggunakan tiga bahasa sehingga menuntut kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan hafalan. Keseluruhan pertandingan dibagi menjadi 24 golongan dan 48 kategori. Format tersebut memberikan ruang kepada peserta dengan keahlian berbeda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Salah satu hal yang menarik pada penyelenggaraan tahun ini adalah perhatian terhadap keterlibatan peserta penyandang disabilitas. MTQ Nasional menghadirkan kompetisi tilawah bagi penyandang disabilitas netra dan juga eksibisi untuk penyandang disabilitas sensorik rungu wicara. Sebanyak 40 peserta tunanetra dari berbagai provinsi tercatat mengikuti perlombaan tilawah disabilitas netra. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk mempelajari dan mendalami Al-Qur’an. Penyelenggaraan kategori yang semakin inklusif diharapkan memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya membuat MTQ terus berkembang mengikuti kebutuhan peserta.
Pelaksanaan seluruh cabang didukung oleh dewan hakim yang bertugas melakukan penilaian secara profesional. Sebanyak 155 dewan hakim disiapkan untuk memberikan penilaian terhadap penampilan peserta dalam berbagai kategori. Selain itu, tujuh anggota Dewan Pengawas turut dikukuhkan untuk mendukung penyelenggaraan kompetisi. Objektivitas, transparansi, dan tanggung jawab menjadi prinsip yang ditekankan dalam proses penilaian. Dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan orang, pengaturan jadwal dan lokasi pertandingan membutuhkan koordinasi yang matang. Pertandingan berlangsung di sejumlah lokasi yang tersebar di Kota Semarang sesuai kebutuhan setiap cabang.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menempatkan MTQ sebagai kegiatan yang mempunyai makna lebih luas daripada sekadar mencari pemenang. Nilai-nilai Al-Qur’an diharapkan hadir dalam kehidupan masyarakat melalui perilaku, sikap saling menghormati, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an dinilai semestinya tercermin melalui akhlak dan kontribusinya dalam menjaga persatuan. Peserta dengan demikian tidak hanya dituntut mempunyai kemampuan membaca atau menghafal secara baik. Mereka juga diharapkan menjadi bagian dari generasi yang membawa nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.
MTQ tahun ini mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”. Tema tersebut menempatkan harmoni dan nilai keagamaan sebagai bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan. Keragaman peserta dari 37 provinsi menjadi gambaran bagaimana masyarakat dengan latar belakang daerah berbeda dapat dipertemukan dalam satu kegiatan. Setiap kafilah membawa identitas dan kekhasan masing-masing tanpa menghilangkan semangat kebersamaan. Pertemuan tersebut juga membuka kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal dan bertukar pengalaman. MTQ pun menjadi ruang silaturahmi nasional selain berfungsi sebagai kompetisi keagamaan.
Semarang mempunyai arti tersendiri sebagai tuan rumah karena MTQ Nasional kembali berlangsung di kota tersebut setelah sekitar 47 tahun. Penyelenggaraan ini karena itu menjadi momentum penting bagi Jawa Tengah sekaligus Kota Semarang. Pemerintah daerah bersama panitia melakukan berbagai persiapan untuk menyambut ribuan peserta dan pendamping. Kebutuhan akomodasi, transportasi, lokasi pertandingan, keamanan, konsumsi, hingga pelayanan kesehatan menjadi bagian yang dipersiapkan. Tim kesehatan ditempatkan pada sekretariat maupun sejumlah hotel penginapan peserta. Ambulans dan fasilitas pendukung lainnya juga disediakan untuk mengantisipasi kebutuhan selama kegiatan berlangsung.
Kehadiran ribuan orang sekaligus diperkirakan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Semarang dan wilayah sekitarnya. Hotel, transportasi, rumah makan, pusat oleh-oleh, hingga pelaku usaha mikro dan kecil mempunyai kesempatan mendapatkan peningkatan aktivitas selama perhelatan berlangsung. Selain perlombaan, rangkaian MTQ juga diisi berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan masyarakat. Pameran dan kegiatan ekonomi kreatif menjadi ruang untuk memperkenalkan produk daerah kepada peserta dari seluruh Indonesia. Interaksi antara kafilah dan masyarakat lokal dapat memberikan dampak yang melampaui kegiatan utama. Dengan demikian, penyelenggaraan MTQ mempunyai dimensi keagamaan, sosial, budaya, dan ekonomi.
Antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak rangkaian awal penyelenggaraan. Ribuan pengunjung menghadiri pembukaan di kawasan Simpang Lima dan menyaksikan dimulainya kompetisi nasional tersebut. Kehadiran masyarakat membuat MTQ tidak hanya menjadi kegiatan bagi peserta dan kafilah, tetapi juga menjadi pesta bersama yang dapat dinikmati publik. Semarang mempunyai kesempatan memperkenalkan keramahan, budaya, serta berbagai potensi daerah kepada tamu dari seluruh Indonesia. Peserta juga dapat membangun hubungan dengan kafilah lain selama berada di kota tersebut. Interaksi semacam ini menjadi salah satu nilai penting yang tidak selalu tercermin melalui hasil akhir perlombaan.
Bagi para peserta, MTQ Nasional merupakan puncak dari proses latihan panjang yang telah dijalani sebelum berangkat ke Semarang. Sebagian besar telah mengikuti seleksi mulai dari tingkat daerah hingga memperoleh kepercayaan mewakili provinsi masing-masing. Mereka membawa target prestasi sekaligus tanggung jawab menjaga nama baik daerah. Namun, kemenangan bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan dalam kegiatan tersebut. Pengalaman bertemu peserta terbaik dari berbagai provinsi dapat menjadi sarana meningkatkan kemampuan dan memperluas wawasan. Generasi muda yang terlibat juga diharapkan semakin termotivasi untuk mempelajari Al-Qur’an secara mendalam.
Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI 2026 pada akhirnya menjadi pertemuan besar 2.242 peserta dari 37 provinsi dengan beragam kemampuan dan latar belakang. Delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori menjadi arena bagi peserta untuk menunjukkan hasil pembinaan yang telah mereka jalani di daerah. Semarang yang kembali menjadi tuan rumah setelah puluhan tahun juga memperoleh kesempatan menjadi pusat kegiatan keagamaan nasional hingga 20 September 2026. Di luar perebutan gelar juara, MTQ membawa pesan mengenai persaudaraan, kerukunan, dan penerapan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Kehadiran ribuan kafilah dari berbagai daerah semakin menegaskan keberagaman Indonesia yang dapat dipertemukan melalui semangat yang sama. MTQ Nasional XXXI pun diharapkan meninggalkan manfaat yang tidak berhenti setelah kompetisi berakhir, tetapi terus terasa dalam kehidupan masyarakat.