Kontroversi AI Guncang Nikon Small World, Karya Pemenang 2026 Ditinjau Ulang

Jakarta, 3 Oktober 2026 – Kontroversi penggunaan kecerdasan buatan atau AI mengguncang Nikon Small World in Motion 2026 setelah karya pemenang kompetisi tersebut dipertanyakan sejumlah ilmuwan. Video karya Ning Xu menampilkan pergerakan silia pada saluran pernapasan seorang anak dengan primary ciliary dyskinesia (PCD), kelainan genetik langka yang memengaruhi fungsi silia. Xu diumumkan sebagai pemenang pada 15 September 2026. Namun, beberapa ahli mikroskopi kemudian mempertanyakan apakah visual akhir video tersebut benar-benar merepresentasikan data biologis yang direkam.

Sorotan terutama tertuju pada sejumlah struktur berwarna yang terlihat di bawah silia. Edward Phelps dari University of Florida menilai beberapa struktur dalam video tersebut tidak menunjukkan karakteristik biologis seperti yang semestinya. Struktur berwarna ungu, misalnya, dinilai menyerupai mitokondria tetapi muncul dalam susunan dan ukuran yang dipertanyakan secara biologis. Struktur berwarna biru juga menyerupai inti sel, tetapi pergerakannya memunculkan pertanyaan dari para peneliti.

Perdebatan semakin besar setelah Ian Donovan, mahasiswa doktoral di UT Southwestern Medical Center, menyebut video tersebut memiliki watermark SynthID yang dapat menjadi indikator penggunaan teknologi AI. Temuan itu kemudian memicu pertanyaan mengenai seberapa jauh AI digunakan dalam menghasilkan tampilan akhir karya pemenang. Nikon pada 22 September memperbarui keterangan mengenai karya tersebut dengan mencantumkan penggunaan model AI dalam tahap pascapemrosesan. Persoalan utama kemudian bergeser dari sekadar penggunaan AI menjadi apakah pemrosesan tersebut mengubah atau menambahkan informasi yang tidak terdapat dalam data mikroskop asli.

Xu membantah AI digunakan untuk menghasilkan rekaman eksperimen, bentuk silia, ataupun gerakan silia yang menjadi fokus utama video. Menurut penjelasannya, AI baru diterapkan setelah data grayscale direkonstruksi untuk membantu membedakan dan memberikan warna pada struktur yang mempunyai morfologi serupa. Ia menyebut pemrosesan tersebut bertujuan membuat visualisasi lebih mudah dipahami dan menarik. Xu juga mengatakan penjelasan lebih terperinci mengenai sistem optik serta analisis kuantitatif pergerakan silia sedang dipersiapkan untuk dipublikasikan.

Nikon kemudian menyatakan sedang meninjau kembali informasi yang diberikan Xu mengenai proses pembuatan video tersebut. Menurut penyelenggara, Xu bersikap kooperatif dan telah menyerahkan dokumentasi teknis yang menjelaskan perangkat mikroskop, metode pencitraan, serta teknik pemrosesan yang digunakan. Peninjauan tersebut menjadi penting karena kompetisi ilmiah tidak hanya mempertimbangkan keindahan visual, tetapi juga kredibilitas representasi data yang ditampilkan. Hingga proses peninjauan selesai, dugaan bahwa AI menghasilkan atau memalsukan bagian video belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Kasus ini sekaligus memunculkan perdebatan lebih luas mengenai batas penggunaan AI dalam pencitraan ilmiah. Melanie White dari University of Queensland menekankan bahwa gambar ilmiah bukan sekadar ilustrasi, melainkan juga bentuk data yang harus tetap berlandaskan pengukuran sebenarnya. Sementara itu, Markus Sauer dari University of Würzburg menilai penggunaan AI untuk membantu visualisasi tidak otomatis menjadi masalah. Persoalan muncul apabila teknologi tersebut membuat hasil eksperimen terlihat berbeda, berlebihan, atau menghadirkan informasi yang sebenarnya tidak terdapat dalam data asli.

Kontroversi Nikon Small World in Motion 2026 menunjukkan tantangan baru yang dihadapi kompetisi fotografi dan visualisasi ilmiah pada era AI generatif. Teknologi kecerdasan buatan dapat membantu meningkatkan keterbacaan dan penyajian data, tetapi transparansi mengenai proses pengolahannya menjadi semakin penting. Publikasi data mentah dan penjelasan tahapan pemrosesan dapat membantu menentukan apakah hasil akhir tetap merepresentasikan observasi yang sebenarnya. Untuk saat ini, perhatian tertuju pada hasil peninjauan Nikon yang akan menentukan bagaimana karya Ning Xu dan penggunaan AI di dalamnya dinilai berdasarkan aturan kompetisi.