Jakarta, 7 Mei 2026 — Pemerintah Singapura kembali menjadi sorotan internasional setelah mendukung penerapan hukuman tegas terhadap pelaku perundungan di lingkungan sekolah, termasuk hukuman fisik berupa cambuk atau pecut sesuai aturan hukum yang berlaku di negara tersebut.
Kebijakan itu memicu perdebatan di berbagai negara mengenai pendekatan disiplin dan penanganan kasus kekerasan di dunia pendidikan. Pemerintah Singapura menilai tindakan tegas diperlukan untuk memberikan efek jera dan menjaga ketertiban di lingkungan sekolah.
Kasus perundungan memang menjadi perhatian serius di banyak negara karena dapat berdampak besar terhadap kondisi psikologis korban, prestasi belajar, hingga kesehatan mental anak dan remaja.
Di Singapura, sistem hukum dikenal memiliki aturan yang cukup ketat terhadap sejumlah pelanggaran, termasuk tindak kekerasan dan kriminalitas tertentu. Hukuman fisik masih diterapkan dalam beberapa kasus sesuai ketentuan hukum negara tersebut.
Pengamat pendidikan menilai setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam menangani masalah disiplin dan kekerasan di sekolah. Sebagian pihak mendukung langkah tegas demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, sementara lainnya menilai pendekatan pembinaan dan edukasi lebih penting untuk jangka panjang.
Pemerintah Singapura sendiri terus menekankan pentingnya menjaga keamanan dan disiplin di lingkungan pendidikan agar siswa dapat belajar dalam suasana yang tertib dan nyaman.
Kasus ini kembali memunculkan diskusi global mengenai batasan hukuman terhadap pelajar serta pentingnya keseimbangan antara penegakan disiplin dan perlindungan hak anak.
Meski menuai berbagai tanggapan, kebijakan Singapura menunjukkan bagaimana persoalan perundungan di sekolah kini menjadi isu yang semakin mendapat perhatian serius di berbagai negara dunia.